Artikel, Keagamaan

3 Jenis Penguasa

Surat Al-Kahfi merupakan salah satu surat yang sangat populer di tengah-tengah kaum muslimin. Surat ke-18 ini disunahkan untuk dibaca pada hari jumat sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat(HR. Hakim). Tidak hanya dibaca, surat Al-Kahfi juga sangat dianjurkan untuk dihafal. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Darda’ radiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ

Siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari Dajjal.” (HR. Muslim). Dalam riwayat lain disebutkan, “Dari akhir surat Al-Kahfi.”

Secara tekstual, Allah ﷻ menjanjikan perlindungan terhadap fitnah dajjal bagi siapa saja yang menghafal 10 ayat surat Al-Kahfi. Namun yang jadi pertanyaan adalah, apakah memang cukup hafal saja tanpa memahami ? Cukup hafal saja tanpa mentadabburi ? Ataukah cukup hafal saja tanpa ada amal yang mengikuti ? Jawabannya tentu tidak cukup hanya dihafal saja. Harus diiringi pemahaman dan juga pengamalan. Surat Al-Kahfi yang terdiri dari 110 ayat ini menyimpan beragam kisah dan hikmah untuk kaum muslimin. Diantaranya adalah tentang ragam jenis penguasa yang diberi kesempatan berkuasa oleh Allah ﷻ di muka bumi.

Jenis yang pertama adalah penguasa yang arogan. Penguasa jenis pertama inilah yang telah memaksakan ideologinya. Penguasa yang melakukan tindakan-tindakan dzholim sehingga rakyatnya dipaksa untuk meninggalkan keimanan. Menghadapi penguasa jenis pertama ini maka kaum muslimin harus bersikap layaknya pemuda Al-Kahfi. Tetap berpegang teguh kepada keimanan meskipun resiko besar telah menanti di depan mata. Tetap memperjuangkan ideologi yang benar meski kesempitan hidup dan berbagai ancaman silih berganti berdatangan. Ketika kaum muslimin bersikap seperti pemuda Al-Kahfi Ketika menghadapi penguasa yang arogan, maka pasti Allah ﷻ akan memberi pertolongan dan jalan keluar. Bahkan pertolongan dan jalan keluar yang diberikan Allah ﷻ bisa jadi berupa mekanisme yang unik, sebagaimana pemuda Al-Kahfi yang diberikan pertolongan dengan mekanisme ditidurkan.

Jenis yang kedua adalah penguasa yang merampas dengan semena-mena. Allah ﷻ mengabadikan jenis penguasa kedua ini melalui kisah Nabi Khidir A.S. ketika merusak perahu milik nelayan miskin. Nabi Khidir alayhissalam merusak perahu tersebut karena ada penguasa jahat yang akan melakukan perampasan. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera (QS Al Kahfi 79). Penguasa jenis pertama dan kedua adalah penguasa yang tidak kita rindukan. Karena kehadirannya menimbulkan bencana dan kegelisahan. Pemerintahannya menyebabkan kerusakan dan berpotensi menghilangkan keimanan.

Adapun penguasa yang dirindukan adalah jenis yang ketiga. Yaitu penguasa yang meratakan keadilan. Sosok penguasa ini tergambar dalam pribadi Dzulqornain. Seorang penguasa yang diabadikan kisahnya dalam surat Al-kahfi. Seorang penguasa yang tak segan menghukum pelaku kedzholiman dan memberi kemudahan bagi kaum beriman. Keadilan Dzulqarnain akan kita dapati tatkala mentadaburi surat Al- Kahfi ayat 87 dan 88. Berkata Dzulqarnain: “Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami”.

Semoga kita semua terhindar dari penguasa jenis pertama dan kedua. Sehingga ketaatan dapat menghiasi tiap sendi kehidupan kita. Kita juga wajib berusaha mewujudkan penguasa jenis ketiga, agar keadilan dapat tegak dan menyebar secara merata.