Artikel, Keagamaan

Bersegera Dalam Kebaikan

Allah ﷻ telah menurunkan Al-Qur’an yang mulia kepada hamba-hambaNya sebagai rahmat, petunjuk, pembeda, penerang, pembawa kabar gembira serta peringatan bagi siapa saja yang mau mengambil peringatan. Karena itulah, kandungan Al-Qur’an terdiri dari aqidah, ibadah, muamalah, kisah-kisah, hukum, ilmu pengetahuan serta akhlaq atau sifat suatu golongan.

Surah Al-Mu’minun adalah salah satu surah yang menyampaikan tentang beragam sifat golongan mukmin. Menurut beberapa pendapat, surah yang terdiri dari 118 ayat ini dinamakan Al-Mu’minun karena Allah ﷻ membuka surah ini dengan menyebutkan sifat-sifat orang mukmin. Selain sifat orang mukmin, Allah ﷻ juga menyebutkan tentang sifat-sifat orang yang bersegera dalam berbuat kebaikan, mereka senantiasa bersegera berbuat kebaikan apabila memiliki kesempatan, mereka selalu berupaya agar amal baiknya terus menerus bertambah. Ketika mereka baru saja selesai melaksanakan amal yang baik, maka mereka ingin segera melanjutkan dengan amal baik lainnya.

Sifat yang pertama adalah berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Mereka selalu mengerjakan kebaikan, beramal saleh dan juga beriman. Keimanan mereka tidak tergoyahkan dengan berbagai ancaman dan bujuk rayu apapun. Namun, mereka juga takut kepada Allah ﷻ, takut jika selama ini ternyata mereka belum memenuhi hak-hak Allah ﷻ, takut jika keimanan mereka hilang dan merasa khawatir jika kebencian-Nya menimpa mereka. Imam Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa sesungguhnya orang mukmin itu menggabungkan dalam dirinya kebaikan dan rasa takut kepada Allah ﷻ. Dan sesungguhnya orang munafik itu menggabungkan dalam dirinya keburukan dan merasa aman dari azab Allah ﷻ.

Sifat yang kedua adalah beriman dengan tanda-tanda kekuasaan Allah ﷻ yang terdapat di alam raya dan di dalam kitab suci yang diturunkan-Nya. Mereka beriman kepada ayat-ayat (tanda-tanda)-Nya, baik yang bersifat alami maupun yang bersifat hukum syar’i. Mereka senantiasa bertafakkur, merenung fikirkan serta mentadabburi ayat-ayat Allah ﷻ. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah ﷻ, maka keimanan mereka pun semakin bertambah. Mengerjakan seluruh perintah Allah ﷻ dengan penuh rasa cinta tanpa paksaan dan menjauhi larangan-Nya tanpa merasa berat.

Sifat yang ketiga adalah tidak menyekutukan Allah ﷻ dengan sesuatu apa pun. Mereka tidak menyembah selain Allah ﷻ, mengesakan-Nya, menggantungkan segala sesuatu kepada-Nya, meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah ﷻ semata, Allah ﷻ tidak memiliki istri, tidak memiliki anak, dan Allah ﷻ tidak memiliki tandingan serta tidak ada yang setara dengan Nya.

Sifat keempat adalah memberikan apa yang mereka miliki dengan hati penuh rasa takut, karena mereka tahu bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya dan mempertanggungjawabkan hartanya. Mereka menjalankan perintah Allah ﷻ, menjauhi segala larang-Nya serta menafkahkan hartanya di jalan Allah ﷻ dengan rasa khawatir dan takut apabila tidak diterima. Ketika mereka telah melakukan perintah Allah ﷻ, mereka tidak membusungkan dada dan menganggap bahwa semua ini pasti akan diterima oleh Allah ﷻ.

Suatu Ketika, Ibunda Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksudkan dalam ayat ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut’, adalah orang yang berzina, mencuri dan meminum khomr?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, ‘Wahai putri Ash-Shiddiq! Yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah seperti itu. Bahkan yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah orang yang yang berpuasa, yang bersedekah dan yang shalat, namun ia khawatir amalannya tidak diterima.’

Patutlah sekiranya kita merenungkan perkataan Malik Ibnu Dinar “Rasa takut amalan tidak diterima itu lebih berat ketimbang amalan itu sendiri.”

Semoga kita semua termasuk golongan yang bersegera dalam kebaikan dan senantiasa menumbuhkan rasa takut tidak diterima ketika beramal, menjadi pribadi yang tulus dalam berdoa dan beramal, semata-mata mengharap keridhoaan dan surga-Nya.