Artikel, Keagamaan

Standar Ketaqwaan

Dalam segala hal di kehidupan ini, seorang muslim dituntut untuk senantiasa bersyukur, agar hidup dipenuhi dengan rasa ketenangan. Dalam segala keadaan, seorang muslim hendaknya selalu bersyukur dengan mengucapkan hamdalah. Sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad ﷺ

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

”Adalah Rasulullah Muhammad ﷺ apabila melihat sesuatu yang beliau sukai, maka beliau mengucapkan ‘Segala puji bagi Allah ﷻ yang dengan nikmat-Nya semua kebaikan menjadi sempurna.’ Dan apabila beliau melihat sesuatu yang dibenci, beliau mengucapkan ‘Segala puji bagi Allah ﷻ atas setiap keadaan.’” (HR. Ibnu Majah)

Syukur adalah pangkal kebahagiaan hidup. Sudah semestinya dan sepantasnya seorang muslim selalu mencari alasan untuk bersyukur kepada Allah ﷻ. Ada banyak hal yang bisa menjadi alasan syukur bagi seorang muslim, salah satunya adalah Allah ﷻ mengukur kemuliaan dengan derjat taqwa. Kemuliaan yang didasari karena taqwa ini adalah kebijaksanaan Allah ﷻ yang wajib kita syukuri.

Berkenaan dengan ini, Allah ﷻ telah menegaskan di dalam firman-Nya surat Al Hujurat ayat ke 13.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

Alhamdulilah, Allah ﷻ tidak mengukur kemuliaan berdasarkan pernak pernik pakaian. Tidak diukur dengan yang sarungan atau yang pakai celana. Tidak diukur dengan yang gamisan atau yang pakai batik. Tidak diukur dengan panjang pendek sorban ataupun panjang pendek jenggot. Tapi Allah ﷻ mengukur dengan taqwa, dan taqwa ini adalah sesuatu yang ghaib, hanya Allah ﷻ yang tau persisi ukuran kemuliaan seseorang. Karena ini perkara yang ghaib, maka kita tidak bisa mengukur tingkat ketaqwaan seseorang secara serampangan.

Alhamdulilah, Allah ﷻ tidak pula mengukur kemuliaan semata-mata dari nasab. Walaupun seseorang berasal dari nasab yang mulia nan terpandang, selama ia tidak bertaqwa, lalai akan kewajiban agama, maka tidak ada kemuliaan baginya. Sebaliknya, walaupun seseorang berasal dari nasab biasa, tapi karena ia bertaqwa dan senantiasa menunaikan kewajiban agama, maka kemuliaan ada dalam genggamannya. Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda.

وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barangsiapa yang lamban amalnya, maka nasabnya tidak bisa mengejarnya”. (HR. Muslim).

Seorang yang tak bertaqwa lalu berlindung dibalik nama besar orang tua dengan membangga-banggakan bapaknya seraya berkata ”engkau belum tau siapa bapakku?”, maka kita jawab “itu kan bapakmu.” Seorang yang bukan ahlul qur’an lalu ingin menggapai kemuliaan ahlul qur’an dengan mendompleng amal ibunya seraya berkata “engkau belum tau ibuku siapa? Dia tiap hari khatam al-qur’an.”, maka kita jawab, “itu kan ibumu, bukan kamu.”

Kebijaksanaan Allah ﷻ yang mengukur derajat hambanya dengan taqwa harus turut serta kita ikuti dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Ukuran-ukuran kemuliaan harus kita kembalikan kepada standar yang telah ditetapkan oleh Allah ﷻ.